Hello, Wor(l)d!


Ada kalanya kita sebagai insan emosional menginginkan waktu di dunia ini berhenti. Berapa milidetik pun itu. Untuk menikmati apa yang biasa disebut sebagai nostalgia. Meskipun tak semua kenangan mereka itu manis, tapi manusia masih saja menikmatinya. Hal itu wajar, karena manusia pada dasarnya memang suka yang aneh-aneh. Mulai dari memakan sesamanya, hingga melakukan pencarian teman hingga ke ujung langit. Aneh bukan?

Namun kendati punya waktu, ada juga yang tak punya sesuatu untuk dinikmati. Sudah dicoba berkali-kali pun masih saja tak menemukannya. Semakin dikejar, semakin jauh pula dia. Entah memang orang-orang ini yang tak punya sesuatu, atau mereka saja yang terlalu cepat menyerah. Namun yang pasti, sesuatu itu pasti ada, karena memang adanya seperti itu. Meski masih ada satu persen yang tak memilikinya. ‘Sesuatu’ banget kan?

Orang-orang yang lain mencoba untuk meraih memori itu. Ada di antara mereka yang menemukan serpihan-serpihan memori itu ketika mereka ingin mundur di penghujung jalan. Yak, tentunya dengan sedikit bantuan. Entah bantuan siapa dan apa, kita pun tak tahu.

Dengan satu kalimat mungkin sudah bisa menjadi media untuk kita meraih memori itu. Yap benar, cukup satu saja. Satu kalimat tadi sudah dapat membawa jiwa kita menuju kesenangan yang tiada akhir. Yang bisa saja diulang kembali di saat klimaks. Demi menuntun nafsu hingga mencapai titik jemunya. Seperti efek dari Izanami, mungkin(?)

Entah sudah berapa lama kita termangu setelah satu kalimat itu muncul. Hingga kita melupakan kelompok yang lain. Kelompok yang membutuhkan beberapa kalimat lagi untuk mencapai tempat yang mereka tuju. Sama seperti yang tadi, ada yang langsung sampai, ada yang masih di perjalanan, ada juga yang langsung menyerah dengan keadaan.

Variasi penikmat masa lalu benar adanya. Dengan satu kalimat tadi, ada yang hanya butuh kelisanan saja, ada juga yang butuh penulisan. Jika berbicara mengenai penulisan, kita akan beranjak untuk mencari media yang lain. Media yang entah itu sebagai notula dari kalimat(-kalimat) yang kita butuhkan, atau pun media yang sebagai saksi bisu atas kalimat itu tanpa dapat memaparkannya.

Iringan deru UFO menemani telinga dia sembari tangannya asyik memegang benda yang akan membawa kesadarannya menuju ke suatu tempat entah-berentah. Pikirannya mulai hanyut dalam kenestapaan yang dijumpainya di sana. Untunglah masih ada kesenangan yang didapatkannya.

Riuh rendah mencerai-beraikan lamunannya. Ingin sekali rasanya berkata kasar. Tapi kepada siapa? Rumput yang bergoyang? Oh, jangan! Rerumputan yang hijau masih dibutuhkan di dunia yang fana ini. Makhluk yang satu ini bisa membantu manusia untuk sintas agar bisa bernostalgia di kemudian hari. Baik itu untuk dimakan oleh makanan maanusia, atau sekadar tempat curhat ketika alam terasa kejam.

Ada kalanya kita sebagai insan emosional menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan atau mungkin seharusnya tidak boleh terlintas di angan kita. Bagaimana mungkin kita menginginkan waktu berhenti? Apa seantusias itu kah manusia untuk bunuh diri?
Comments

2 komentar:

  1. bundir bukan tujuan akhir, ngewe adalah tujuan akhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan masalah awal atau akhir, tapi bagaimana kita memaknai hasil dari usaha kita tersebut. Meski bundir sekalipun.

      Hapus
Related posts
Guestbook
Author
Other


© 2008 - 2017 Penyintas
Blogger Template Win 8 design by Dark Ard from DeezClan | All rights reversed.
  • Post
  • Comments
  • Related
  • Guestbook
  • Author
  • Other