Jangan Jadi Perfeksionis, Tapi Berlakulah Seperti Mereka


Hei,
Apa sintasan sering melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya cepat dan mudah dilakukan menjadi lama dan terasa sukar untuk dikerjakan? Jika iya, itu bukan karena sintasan bodoh atau semacamnya, melainkan karena sintasan adalah seorang perfeksionis. Atau juga karena sintasan suka menunda-nunda pekerjaan (semoga jangan).

Menjadi perfeksionis sebenarnya bagus, tapi ada buruknya juga. Yes, because nothing is perfect. Bahkan perfeksionis itu sendiri tidaklah benar-benar perfek. Maka dari itu janganlah menjadi perfeksionis, tapi berlakulah seperti perfeksionis. (Hah?)

Maksudnya?
Maksudnya itu,... hmmm... apa ya? Tengok aja lah nanti maksudnya. Baca artikel ini sampai habis. Hehehe. Tapi beneran loh. Jangan jadi perfeksionis, tapi berlakulah seperti perfeksionis. Karena

  • Menjadi perfeksionis akan membuat pekerjaan sintasan lebih memuaskan. Hal ini karena sintasan akan memperhatikan setiap detail dari perkerjaanmu.
  • Menjadi perfeksionis akan membuatmu perpikir kritis. Cepat atau lambat, sintasan akan suka untuk mengkritik apapun.
  • Menjadi perfeksionis akan membuat dirimu menjadi berbeda dari orang-orang pada umumnya, aka anti-mainstream. Karena sintasan punya standar yang berbeda, tentunya standar yang lebih tinggi.
  • Menjadi perfeksionis akan membuat segala pekerjaanmu terencana dengan baik. Sintasan pasti tahu kan hasil dari perencaan yang baik, kan?

Lah, kalau gara-gara jadi perfeksionis bisa kekgitu, mending jadi perfeksionis dong?
Nope. Memang benar itu semua akan terjadi kalau sintasan jadi perfeksionis. But those are the positive effects. You haven’t know the negative, right?

  • Memang detail itu baik. Tapi tak semuanya harus dikerjakan secara mendatail kan? Terkadang kita hanya perlu mengerjakan sesuatu seperlunya saja. Jika tidak, kita hanya membuang-buang waktu.
  • Punya sikap kritis itu penting. Kita tidak akan menerima apapun yang diberikan kepada kita begitu saja. Kita akan memikirkan WH-question sesuatu itu terlebih dahulu. Tapi jika kita mengkritisi hingga terus mengkritik apa yang dilakukan orang lain. Tentu orang lain lama-kelamaan tidak suka bergaul dengan kita.
  • Standar itu penting. Bicara soal standar, berarti kita bicara soal kualitas. Sintasan yang punya standar tinggi, atau bahkan sangat tinggi, cenderung akan menolak (hasil) seseorang yang kualitasnya tak memenuhi standarmu. Sintasan akan tidak mudah percaya pada orang lain. Jika diberikan suatu tugas kelompok, sintasan mungkin akan berpikir untuk mengerjakannya seorang diri. Kalau tugas kelompok sintasan kerjakan sendiri, nah, tau kan siapa yang bakal rugi?
  • Kita memang sebaiknya merencanakan segala sesuatu sebelum bertindak. Harus malahan. Namun kita tak seharusnya juga terus-terusan memikirkan rencana sampai-sampai kita tak sadar kalau tenggat eksekusi sudah di depan mata. Hal ini sering sekali dilakukan oleh para perfeksionis. Mereka senantiasa menghabiskan waktu mereka untuk memikirkan bagaimana sesuatu itu dapat berjalan sesempurna mungkin. Mereka sampai lupa kalau batas waktunya sudah sangat dekat. Alhasil, mereka akan bekerja dan berpikir ekstra keras untuk menyelesaikannya sebelum hari H.

Kekmana? Udah tahu kan apa dampak kalau sintasan jadi perfeksionis? Mungkin sintasan berpikir bahwa itu semua terjadi kepada sebagian orang saja dan dalam waktu tertentu saja. Of course not. Kelebihan dan kekurangan ini dimiliki oleh hampir seluruh perfeksionis. Jika sintasan tak memilikinya, mungkin sintasan bukan (lagi) seorang perfeksionis.

Maka dari itu, ga usah jadi perfeksionis, tapi berlaku aja kayak orang tu. Ya, kalau saranku sih, sintasan tak harus:

  • Mengerjakan segala sesuatu dengan detail. Kerjakanlah sesuatu seperlunya saja, tapi usahakan dengan kemampuan semaksimal mungkin. Dengan mempertimbangkan waktu, tenaga, hasil, kepuasan, upah, dan faktor lainnya dalam menyelesaikan sesuatu itu. Tapi kalau memang diperlukan detail, ya sintasan harus mengerjakannya dengan detail.
  • Tetaplah menjadi orang yang kritis. Dengan demikian sintasan akan semakin mahir dalam menilai sesuatu. Apalagi kalau itu hasil cipta orang lain. Sah-sah saja kalau mau memberikan kritik. Tapi hendaknya kritik itu disampaikan dalam bentuk saran, bukan malah kripik pedas. Tak semua orang tahan menelan yang pedas-pedas. Kecuali jika memang dia adalah penikmat rasa sakit atau sintasannya yang berprofesi sebagai kritikus pr0.
  • Di samping mempertahankan sikap kritis yang sintasan miliki, sintasan juga harus mempertahankan standar yang tinggi tadi. Tapi cobalah untuk menerima orang lain apa adanya. Jika boleh, sintasan sebaiknya membantu mengembangkan kemampuan mereka sesuai kemampuan sintasan.
  • Tetap rencanakan segala sesuatu sebelum dieksekusi. Tapi jangan terlalu pikirkan soal kesempurnaan. Karena tak sedikit sesuatu yang besar berawal dari kegagalan.
  • [ dll. ]

Dah-
Gitu aja ._.

Kekmana? Apa sintasan sudah siap untuk meninggalkan perfeksionisme sintasan? Atau sintasan sudah ada niatan untuk menghilangkannya? Apapun pilihan sintasan, semoga itu jadi yang terbaik. Apapun yang ada di unek-unek sintasan, berkomentarlah agar merasa lebih baik.

Okay
Thank you
See ya

Catatan: Sepertinya artikel ini butuh revisi. Kurang enaq dibaca :(
Comments

Tidak ada komentar:

Related posts
Guestbook
Author
Other


© 2017 Penyintas | Keep breathing and Sintas!
Blogger Template Win 8 design by Dark Ard from DeezClan | All rights reversed.
  • Post
  • Comments
  • Related
  • Guestbook
  • Author
  • Other